Pada pertemuan sebelumnya,
mahasiswa menyusun program.
Sekarang pertanyaannya berubah:
Bagaimana ruang-ruang tersebut
harus diorganisasi agar bangunan
dapat bekerja?
Tidak semua ruang harus berdekatan.
Ada ruang yang:
harus dekat,
sebaiknya dekat,
boleh jauh,
atau harus terpisah.
Hubungan sangat dekat. Contoh: lobby dan information.
Sebaiknya berdekatan tetapi tidak wajib.
Tidak ada kebutuhan hubungan khusus.
Hubungan perlu dibatasi atau dipisahkan.
Bubble diagram membantu mahasiswa
melihat hubungan program
sebelum terjebak pada bentuk denah.
Ukuran bubble dapat menunjukkan
tingkat kepentingan atau kapasitas.
Jarak menunjukkan hubungan.
Bubble diagram bukan denah. Ia adalah alat untuk menguji hubungan.
Organisasi ruang membutuhkan
hierarchy.
Ruang utama,
ruang pendukung,
ruang transisi,
dan ruang servis memiliki
peran berbeda dalam sistem.
Aktivitas utama proyek.
Mendukung aktivitas utama.
Menghubungkan berbagai kondisi ruang.
Menjaga operasional bangunan.
Memperkuat pengalaman pengguna.
Bangunan publik selalu memiliki
degrees of access.
Tidak semua ruang dapat diakses
semua orang.
Inilah dasar pemikiran
public → semi-public → private → service.
Zoning bukan sekadar mewarnai
ruang pada diagram.
Zoning adalah keputusan tentang:
siapa boleh berada di mana,
bagaimana mereka masuk,
dan bagaimana mereka berpindah.
Siapa yang boleh masuk?
Apa yang harus terlihat dan apa yang tersembunyi?
Di mana akses perlu dikontrol?
Bagaimana berpindah dari satu zona ke zona lain?
Sirkulasi adalah bagian dari
organisasi arsitektur.
Ia menentukan bagaimana pengguna
menemukan,
mengalami,
dan memahami
bangunan.
Bagaimana pengguna pertama kali tiba?
Bagaimana pengguna memahami arah?
Bagaimana pengguna berpindah?
Di mana pengguna berhenti?
Ke mana pengguna akhirnya menuju?
Tidak ada satu pola sirkulasi
yang selalu benar.
Pilihan organisasi harus mengikuti
karakter program,
pengguna,
site,
dan pengalaman
yang ingin dibangun.
Pergerakan mengikuti satu arah utama.
Beberapa ruang bertemu pada satu pusat.
Pergerakan membentuk rangkaian yang berulang.
Beberapa jalur dan node saling terhubung.
Gunakan hasil programming
pertemuan sebelumnya.
Jangan menggambar denah.
Gunakan bubble.
Output: 1 Bubble Diagram kelompok.
Setiap kelompok memilih
satu hubungan ruang
yang paling penting.
Jelaskan:
Mengapa harus dekat?
Mengapa tidak boleh dekat?
Apa yang terjadi jika hubungan tersebut berubah?
Sekarang terjemahkan bubble diagram menjadi zoning diagram.
Output: Bubble Diagram → Zoning Diagram.
Organisasi ruang harus mulai
berhubungan dengan konteks.
Entrance,
pedestrian,
kendaraan,
view,
public space,
service,
dan kondisi lingkungan
mulai memengaruhi zoning.
Dari mana pengguna datang?
Di mana bangunan bertemu ruang publik?
Bagaimana logistik dan servis masuk?
Ruang mana yang mendapatkan kualitas terbaik?
Bagaimana orientasi memengaruhi ruang?
Hasil hari ini menjadi
alat berpikir
untuk tahap desain berikutnya.
Jangan langsung membuat
bentuk bangunan.
Uji terlebih dahulu
organisasi ruangnya.
Apa saja yang dibutuhkan?
Apa yang harus berdekatan atau terpisah?
Bagaimana akses dan hierarchy dibentuk?
Bagaimana semuanya menjadi sistem arsitektur?
Sebelum menentukan bentuk,
pastikan sistem ruangnya
memiliki alasan.
Relationship → Hierarchy → Access
→ Circulation → Zoning
Tentukan hubungan antar ruang dan aktivitas.
Tentukan ruang utama, pendukung dan servis.
Terjemahkan semuanya menjadi sistem ruang.