Setelah membaca konteks dan memahami constraint, mahasiswa mulai membangun kemungkinan bentuk. Program tidak langsung menjadi satu massa. Program diterjemahkan menjadi parameter, aturan dan proses yang memungkinkan berbagai alternatif massa dihasilkan.
Dalam tahap awal desain, mahasiswa sering terlalu cepat jatuh cinta pada satu bentuk. Padahal pada tahap konseptual, yang lebih penting adalah exploration.
Karena itu mahasiswa akan belajar menghasilkan beberapa alternatif massing sebelum memilih dan mengembangkannya.
Bukan:
“Bentuk apa yang saya mau?”
Tetapi:
“Logika apa yang dapat menghasilkan
berbagai bentuk yang mungkin?”
Apa saja kebutuhan ruang?
Apa yang dapat berubah?
Aturan apa yang membentuk hubungan?
Bagaimana aturan tersebut diproses?
Apa saja kemungkinan hasilnya?
Mana yang paling responsif?
Alternatif mana yang dikembangkan?
Dalam A Pattern Language, Alexander melihat desain melalui hubungan antar pattern dan konteks.
Dalam studio, mahasiswa dapat menggunakan gagasan ini untuk membaca hubungan antarprogram sebelum menentukan bentuk.
Melalui konsep Shape Grammar, bentuk dapat dihasilkan melalui aturan transformasi.
Ini menjadi dasar berpikir bahwa massa dapat generated, bukan hanya digambar.
Mitchell menunjukkan pentingnya representasi, logika dan aturan dalam proses desain arsitektur.
Dengan demikian proses digital dapat membantu memperluas ruang solusi.
Dalam diskursus digital architecture, Kolarevic membahas pergeseran dari digital representation menuju proses digital generation dan morphogenesis.
Yang penting bukan sekadar menggunakan software, tetapi memahami bagaimana software mengubah cara menghasilkan desain.
Digital design thinking membuka cara baru dalam memahami hubungan antara design process, representation, generation dan evaluation.
Computational design dapat digunakan untuk membangun hubungan antara input, aturan, parameter dan output.
Digunakan sebagai lingkungan pemodelan 3D untuk membangun, memodifikasi dan membaca geometri massa.
Rhino menjadi geometry environment.
Digunakan untuk membuat hubungan parameter, rules dan geometry secara visual.
Mahasiswa mulai berpikir: “What if this parameter changes?”
Digunakan untuk computational design dan automation dalam environment BIM.
Dynamo membantu menghubungkan parameter, model dan design alternatives.
Sebuah model parametrik menjadi menarik ketika mahasiswa mampu mengidentifikasi variabel yang dapat berubah.
Length
Width
Height
Floor Count
Floor Height
Volume
Courtyard
Void
Setback
Rotation
Sun
View
Wind
Area
Adjacency
Hierarchy
Core
Corridor
Entrance
Road
Boundary
Neighbor
KDB
KLB
GSB
Height
Program dengan karakter tertentu dapat ditumpuk secara vertikal.
Satu massa dapat dipecah menjadi beberapa volume untuk membentuk courtyard, void atau circulation.
Floor plate dapat digeser untuk menghasilkan terrace, shading atau spatial variation.
Massa dapat diputar terhadap orientasi matahari, view atau site geometry.
Volume dapat dikurangi untuk menciptakan courtyard, lightwell atau public void.
Module dapat diulang untuk menciptakan struktur, ritme atau program cluster.
Program disusun dalam linear mass.
Potential: orientation, circulation, view.
Massa mengelilingi ruang terbuka.
Potential: community, light, microclimate.
Program dibagi menjadi beberapa volume.
Potential: porosity, phasing, human scale.
Program dikembangkan secara vertikal.
Potential: compactness, land efficiency, view.
Simple mass.
Tujuan: mencari baseline.
Modify parameter.
Misalnya: height, orientation, courtyard, setback.
Combine strategies.
Bandingkan konsekuensi spatial dan environmental.
Grasshopper dan Dynamo mengajarkan mahasiswa untuk melihat desain sebagai hubungan antarvariabel.
Bubble diagram, adjacency, hierarchy dan spatial organization.
Tunjukkan parameter yang digunakan dalam proses generative.
Grasshopper definition atau Dynamo graph.
Tampilkan perkembangan alternatif massa.
Bandingkan alternatif berdasarkan kriteria yang jelas.
Pilih 1–2 alternatif untuk dikembangkan pada tahap berikutnya.
| Criteria | A | B | C | D |
|---|---|---|---|---|
| Site Response | 1–5 | 1–5 | 1–5 | 1–5 |
| Program Efficiency | 1–5 | 1–5 | 1–5 | 1–5 |
| Circulation | 1–5 | 1–5 | 1–5 | 1–5 |
| Environmental Response | 1–5 | 1–5 | 1–5 | 1–5 |
| Architectural Potential | 1–5 | 1–5 | 1–5 | 1–5 |
A Pattern Language (1977).
Rujukan untuk memahami pattern, relationship dan spatial organization.
Shape: Talking about Seeing and Doing (2006).
Rujukan penting untuk shape grammar dan generative design.
The Logic of Architecture: Design, Computation, and Cognition (1990).
Membahas hubungan architecture, computation, representation dan design logic.
Architecture in the Digital Age: Design and Manufacturing (2003).
Mendalami digital morphogenesis dan computational design.
Literatur mengenai digital design thinking, computational design dan design cognition.
Grasshopper official guides dan learning resources.
OFFICIAL GRASSHOPPER GUIDES ↗Dynamo for Revit merupakan graphical programming interface untuk meng-customize workflow BIM.
DYNAMO FOR REVIT ↗Pelajari bagaimana goals, constraints, variables dan algorithms digunakan untuk menghasilkan design outcomes.
GENERATIVE DESIGN TUTORIAL ↗
GENERATE ≠ DRAW
Generate berarti memperluas
kemungkinan sebelum memilih.