Setelah membaca konteks, menguji constraint, dan menghasilkan berbagai alternatif massa, mahasiswa perlu menentukan arah desain. Bukan hanya memilih bentuk, tetapi menentukan cara berpikir yang akan digunakan untuk mengembangkan proyek.
Pada pertemuan sebelumnya, mahasiswa menghasilkan banyak kemungkinan massa. Sekarang pertanyaannya berubah:
Design position adalah sebuah argument mengenai bagaimana proyek seharusnya merespons konteks, pengguna, lingkungan, program dan pengetahuan yang telah diperoleh.
Tidak semua proyek membutuhkan pendekatan yang sama. Context determines strategy.
“Bangunan seperti apa yang ingin saya buat?”
Bentuk menjadi titik awal.
“Masalah apa yang ingin saya respons?”
Evidence dan argument menjadi titik awal.
Zeisel menjelaskan proses desain sebagai proses inquiry yang iteratif.
Desain berkembang melalui proses mencoba, melihat, menguji dan memperbaiki.
Lawson menunjukkan bahwa design thinking tidak selalu linear.
Designer membangun hipotesis dan mengujinya melalui proses desain.
Design merupakan cara memperoleh pengetahuan melalui making, modelling, visualisation dan testing.
Schön memperkenalkan konsep reflection-in-action.
Designer berpikir sambil melakukan.
Dalam pendekatan Alexander, form dapat dipahami sebagai respons terhadap forces yang bekerja dalam konteks.
Kota dipahami melalui hubungan manusia, aktivitas, movement dan ruang.
Mahasiswa memilih 1 primary approach dan dapat menggunakan 1–2 supporting approaches.
Site, urban morphology, culture, landscape, climate dan local identity.
User, activity, movement, interaction dan social patterns.
Climate, energy, water, material, ecology dan passive design.
Observation, measurement, simulation, precedent dan data.
Theory, literature, case study dan research question.
Parametric design, simulation, generative design dan optimization.
Design framework menghubungkan apa yang ditemukan mahasiswa dengan apa yang akhirnya diputuskan dalam desain.
Apa yang terjadi di site?
Apa yang dapat dibuktikan?
Apa masalah atau potensi utamanya?
Apa sikap desain kita?
Lensa apa yang digunakan?
Prinsip desain apa yang digunakan?
Bagaimana prinsip diterapkan?
Apa keputusan arsitekturnya?
Bagaimana keputusan diuji?
Apa yang perlu dikembangkan kembali?
Setiap keputusan desain harus memiliki hubungan dengan evidence sebelumnya.
Mahasiswa menulis satu pernyataan singkat yang menjelaskan sikap desain.
Turunkan position menjadi 3–5 prinsip yang dapat digunakan untuk mengarahkan desain.
Apa kondisi utama?
SITE / URBAN / CLIMATE
Apa yang ditemukan?
DATA / OBSERVATION
Apa masalah/potensi?
PROBLEM / OPPORTUNITY
Apa sikap desain?
BECAUSE → SHOULD
Lensa apa?
CONTEXTUAL / BEHAVIORAL
Prinsip apa?
DESIGN RULE
Bagaimana menerapkan?
ACTION
Apa hasil desain?
FORM / SPACE / SYSTEM
3–5 isu utama berdasarkan hasil READ dan CONSTRAIN.
Data, observation, precedent atau research yang mendukung.
Satu pernyataan yang menjelaskan arah desain.
1 primary + 1–2 supporting approaches.
3–5 prinsip yang mengarahkan desain.
Diagram Context → Evidence → Position → Strategy → Decision.
Apa evidence terpenting dalam proyek saya?
Apa isu utama yang ingin saya respons?
Mengapa saya memilih pendekatan ini?
Apa prinsip yang mengarahkan desain?
Bagaimana strategi diturunkan dari prinsip?
Bagaimana saya dapat menguji keputusan tersebut?
How Designers Think: The Design Process Demystified .
Rujukan utama untuk memahami design thinking dan proses desain.
Inquiry by Design: Environment/Behavior/Neuroscience in Architecture, Interiors, Landscape, and Planning .
Mendalami desain sebagai proses inquiry dan testing.
Designerly Ways of Knowing .
Memahami design sebagai cara memperoleh pengetahuan.
The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action .
Dasar konsep reflection-in-action.
Notes on the Synthesis of Form .
Context, forces dan synthesis dalam desain.
Life Between Buildings .
Memahami hubungan people, activity dan space.
The Death and Life of Great American Cities .
Urban life, diversity, movement dan public space.
Architecture in the Digital Age: Design and Manufacturing .
Digital design, morphogenesis dan computational thinking.
POSITION ≠ STYLE
Position bukan sekadar
gaya visual.
Position adalah
sikap desain yang
dapat dipertanggungjawabkan.