Apa yang diuji?
UTS ini tidak terutama menguji kualitas gambar akhir. UTS mengukur kemampuan mahasiswa dalam membangun proses berpikir desain dari persoalan menuju keputusan arsitektur.
Fast Response bukan tentang menggambar secepat mungkin, tetapi tentang mengambil keputusan desain secara cepat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Learning Outcomes
Setelah menyelesaikan UTS, mahasiswa diharapkan mampu menunjukkan ketercapaian tujuh kompetensi awal dalam proses perancangan AMPP IV.
Frame
Merumuskan persoalan desain dari sebuah project brief dan menghasilkan design question yang jelas.
Program
Menerjemahkan user, activity, capacity dan kebutuhan ruang menjadi spatial program.
Organize
Mengorganisasi hubungan ruang, hierarchy, zoning dan circulation.
Read
Membaca site, urban context, movement, climate, accessibility dan existing conditions.
Constrain
Menerjemahkan regulasi dan standar menjadi design constraints serta design response.
Generate
Menghasilkan beberapa alternatif massa melalui transformasi program, context dan constraint.
Position
Menentukan pendekatan desain dan merumuskan design framework yang dapat dipertanggungjawabkan.
Seven Design Moves
UTS mengambil tujuh tahapan pertama AMPP IV sebagai struktur assessment.
Assessment Stages
Setiap tahap memiliki pertanyaan, aktivitas, evidence dan indikator ketercapaian.
Task
- Membaca project brief.
- Mengidentifikasi masalah utama.
- Menentukan design question.
- Merumuskan design intention.
- Menentukan tiga design priorities.
Evidence
Problem Statement Design QuestionDesign Intention
3 Design Priorities
Task
- Identifikasi user.
- Identifikasi activity.
- Menentukan spatial needs.
- Menentukan capacity.
- Menyusun kebutuhan ruang.
Evidence
Spatial Program User → Activity → Space → Capacity → AreaTask
- Adjacency.
- Hierarchy.
- Public–private relationship.
- Spatial zoning.
- User circulation.
- Service circulation.
Evidence
Spatial Organization Bubble DiagramZoning Diagram
Circulation Diagram
Task
- Site analysis.
- Urban context.
- Movement.
- Accessibility.
- Climate.
- Existing condition.
- Surrounding activity.
Evidence
Context Analysis Finding → Implication → Design ResponseAnalisis tidak cukup berhenti pada data. Mahasiswa harus menunjukkan konsekuensi desain.
Task
- KDB.
- KLB.
- GSB.
- Building envelope.
- Building height.
- Accessibility.
- Fire safety.
Evidence
Regulatory Framework Regulation → Constraint → Design ResponseTask
- Mengubah program menjadi massa.
- Menguji beberapa konfigurasi.
- Membuat minimal 3 alternatif.
- Membandingkan kelebihan dan kekurangan.
- Memilih alternatif potensial.
Evidence
Alternative Massing Option AOption B
Option C
Setiap alternatif harus memiliki design logic yang jelas.
Task
- Menentukan primary design approach.
- Menentukan design principles.
- Merumuskan design strategies.
- Menghubungkan strategy dengan spatial response.
Evidence
Design Framework Approach↓
Principle
↓
Strategy
↓
Design Response
Fast Response Timeline
Waktu dibatasi untuk memaksa mahasiswa melakukan prioritisasi dan pengambilan keputusan.
Mahasiswa diperbolehkan menggunakan teknik manual maupun digital sesuai instruksi dosen. Kecepatan bukan tujuan utama; keterbacaan proses dan kualitas keputusan desain adalah fokus assessment.
Final Design Response
Seluruh proses dirangkum dalam satu Design Response Board.
Design Argument
Mahasiswa harus mampu menjelaskan hubungan sebab-akibat dari keputusan desainnya.
Problem
Apa persoalan utama yang ditemukan?
Strategy
Strategi apa yang dipilih untuk menjawab persoalan?
Space
Bagaimana strategi tersebut diterjemahkan menjadi organisasi ruang?
Outcome
Apa konsekuensi arsitektural yang dihasilkan?
Assessment Rubric
Penilaian berfokus pada ketercapaian kompetensi, bukan sekadar kualitas visual.
| Kompetensi | Evidence | Bobot | Yang Diukur |
|---|---|---|---|
| 01 FRAME |
Problem Statement Design Question Design Intention |
10%
|
Kemampuan memahami dan merumuskan persoalan desain. |
| 02 PROGRAM | Spatial Program |
15%
|
Kemampuan menerjemahkan user, activity dan capacity menjadi kebutuhan ruang. |
| 03 ORGANIZE |
Bubble Diagram Zoning Circulation |
15%
|
Kemampuan mengorganisasi hubungan dan hierarchy ruang. |
| 04 READ | Context Analysis |
15%
|
Kemampuan membaca konteks dan menghasilkan design implication. |
| 05 CONSTRAIN | Regulatory Framework |
10%
|
Kemampuan menerjemahkan regulasi menjadi keputusan desain. |
| 06 GENERATE | 3 Alternative Massing |
20%
|
Kemampuan menghasilkan, membandingkan dan memilih alternatif. |
| 07 POSITION | Design Framework |
15%
|
Kemampuan menentukan pendekatan dan posisi desain secara argumentatif. |
Level Ketercapaian
Setiap kompetensi dinilai menggunakan empat level.
Not Yet Achieved
Mahasiswa belum mampu menunjukkan kompetensi yang diminta.
Developing
Mahasiswa sudah mencoba tetapi keputusan masih umum dan membutuhkan banyak arahan.
Achieved
Mahasiswa mampu melakukan proses secara mandiri dan menghasilkan keputusan yang logis.
Advanced
Mahasiswa mampu menghasilkan keputusan yang kritis, terintegrasi dan argumentatif.
Deskripsi Level
| Kompetensi | Level 1 | Level 2 | Level 3 | Level 4 |
|---|---|---|---|---|
| FRAME | Mengulang brief. | Menemukan masalah tetapi masih umum. | Merumuskan masalah desain dengan jelas. | Masalah tajam, kritis dan memiliki implikasi spatial. |
| PROGRAM | Daftar ruang tanpa hubungan. | User dan ruang teridentifikasi. | User, activity dan space terhubung. | Program menjadi dasar keputusan desain. |
| ORGANIZE | Hubungan ruang tidak jelas. | Zoning dasar tersedia. | Relationship dan circulation logis. | Hierarchy dan spatial logic kuat. |
| READ | Hanya mengumpulkan data. | Analisis tersedia tetapi deskriptif. | Analisis menghasilkan design implication. | Context menjadi generator keputusan desain. |
| CONSTRAIN | Regulasi hanya dicantumkan. | Constraint mulai diterapkan. | Constraint menghasilkan design response. | Constraint menjadi bagian strategi desain. |
| GENERATE | Satu alternatif. | Beberapa alternatif tetapi berbeda hanya secara bentuk. | Alternatif memiliki design logic. | Alternatif diuji, dibandingkan dan menghasilkan keputusan yang argumentatif. |
| POSITION | Pendekatan tidak jelas. | Pendekatan disebutkan tetapi tidak terhubung dengan desain. | Approach, principle dan strategy terhubung. | Design framework kuat dan menjadi dasar keputusan arsitektural. |
Lembar Penilaian
Form ini dapat digunakan dosen saat melakukan assessment.
| Kompetensi | Bobot | Level 1–4 |
Catatan Assessor |
|---|---|---|---|
| 01 FRAME | 10% | ||
| 02 PROGRAM | 15% | ||
| 03 ORGANIZE | 15% | ||
| 04 READ | 15% | ||
| 05 CONSTRAIN | 10% | ||
| 06 GENERATE | 20% | ||
| 07 POSITION | 15% |
Ketentuan UTS
01 — Individual
UTS dikerjakan secara individual. Setiap mahasiswa menghasilkan keputusan desainnya sendiri.
02 — Time Limited
Setiap tahap memiliki waktu terbatas. Mahasiswa harus mampu menentukan prioritas.
03 — Process Matters
Proses berpikir dan evidence lebih penting daripada kualitas rendering.
04 — Evidence Based
Setiap keputusan desain harus dapat ditelusuri kembali kepada problem, program, context atau constraint.
05 — Alternative Required
Mahasiswa wajib menunjukkan minimal tiga alternatif pada tahap GENERATE.
06 — No Final Design Required
UTS berhenti pada tahap early design. Mahasiswa tidak dituntut menghasilkan desain final.
is not
FAST DRAWING
Fast Response adalah kemampuan untuk memahami persoalan, mengambil keputusan, menghasilkan kemungkinan, menguji pilihan dan menjelaskan alasan di balik keputusan desain dalam waktu terbatas.
From Assessment to Studio
Hasil UTS digunakan sebagai diagnostic map untuk pembelajaran Studio 4.
Strength
Kompetensi yang sudah dikuasai mahasiswa dapat menjadi kekuatan dalam pengembangan proyek.
Gap
Kompetensi dengan Level 1–2 menjadi target intervensi pembelajaran setelah UTS.
Next Move
Mahasiswa melanjutkan Studio 4 dengan membawa design position dan evidence yang telah dibangun.